DIALOGIKA pilihan


Ketika sedang makan di sebuah rumah makan, secara tak sengaja saya mendengar percakapan dua orang pemuda. Melihat keakraban mereka saya yakin mereka adalah kawan, kalau musuh tidak mungkin mereka seakrab itu. Yang membuat saya tertarik dari sekian banyak tema yang mereka obrolkan adalah masalah pemilu yang sekarang lagi hot-hotnya.

1950_diskusi_bukan_debat_kusir
Continue reading

Advertisements

Kisah Cinta Kartosoewirjo


DI BALIK pasangan yang hebat ada cinta yang kuat. Mungkin itulah kalimat yang pas bagi pasangan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan Dewi Siti Kaltsum. Dua sejoli yang mengalami pasang surut dalam penegakan Darul Islam puluhan tahun silam. Kisahnya menjadi epik bagi anak cucu Islam kelak puluhan tahun mendatang. Iya sebuah cerita cinta dari Malangbong, Garut, Jawa Barat, untuk cahaya Islam di bumi Indonesia.

kartosuwiryoPerkenalan Kartosoewirjo dengan Dewi Siti Kaltsum terjadi saat pimpinan Darul Islam itu tengah mampir ke Malangbong, Garut, tahun 1928. Kebetulan Ayahanda Dewi adalah Ardiwisastra, salah seorang Ulama, Ajengan, dan Tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) ternama di Garut. Niat Kartosoewirjo menyambangi kediaman Ardiwisastra semata-mata mengumpukan dana bagi keberangkatan KH. Agoes Salim ke Belanda demi berdiplomasi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Continue reading

Berhari Raya ala Rasulullah SAW


59466_155345281157599_5222660_nHaru biru mewarnai suasana kaum muslimin saat Idul Fithri tiba, antara kesedihan berpisah dengan Ramadhan dan kegembiraan berjumpa dengan Idul Fithri. Sebuah ujian baru saja terlewati, dan masing-masing menyadari apakah ia “lulus” atau “gagal” dalam ujian tersebut. Makna Idul Ftihri tentu akan semakin agung jika kita meluangkan waktu melihat bagaimana Rasulullah saw beridul fithri.

makna Idul Fithri
Idul Fithri adalah hari di mana kaum muslimin kembali berbuka. ‘Fithri’ berasal dari kata Continue reading

Kisah Seorang Bapak Yang Keliru Memaknai “Pemuda”


Proud_to_be_a_MuslimTatkala langit dan bumi telah berubah, matahari dan bulan pun telah meninggalkan tempatnya. Aku berada disuatu tempat riuh nan keramaian dengan cahaya meninggi. Sesekali menoleh orang-orang kepada seorang paruh baya yang menjadi perhatian karena ketidakbiasaan kehadirannya dan perawakan tubuhnya, sambil sesekali tersenyum kepadanya. Tak lama kemudian datang seorang bapak menghampirinya dan berkata “assalamualaikum..”, dan dijawabnya dengan sebaik-baik balasan ucapan “waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, sudah lama tak bertemu tengku[1]”, ternyata orang tersebut adalah sahabat bapak itu yang telah lama tidak bertemu.

Setelah beberapa lama berbasa-basi melepas kerinduan dengan sesekali bercerita kejadian lucu tahun-tahun silam, sang bapak pun memulai pembicaraan serius. Continue reading