“FITNAH”, Revitalisasi Istilah


Seringkali baik dalam percakapan kita sehari-harinya terucap kata “FITNAH”, dan juga sering kita jumpai kata ini pula dalam banyak media massa. Kata ini menjadi begitu sering terucap dan terdengar mengingat begitu banyak fitnah beredar dilingkungan khas kita dan lingkungan global. Tak terkecuali para masayikh dan mubaligh, public figure (tokoh publik) pun tak ayal sering menggunakan kata ini, mulai dari tokoh politik, pengamat, birokrat, selebritis, bahkan pelawak pun ikut meramaikan seolah tak ingin ketinggalan.

dontfitnahDan pastinya kita mengetahui bahwa kata “FITNAH” ini bukan berasal dari kaidah bahasa ibu kita, yaitu Bahasa Indonesia. Melainkan unsur kata serapan dari Bahasa Arab, yaitu bahasa yang digunakan oleh bangsa yang mendiami jazirah arabia. Maka untuk keperluan memahami dalil-dalil tentang huru-hara akhir zaman, diperlukan pemahaman mendalam mengenai makna fitnah. Karena dengan memahami makna sebenarnya akan sangat menentukan sejauh apa kita berpikir dan paham akan khabar dari Rasulullah SAW. Semoga hal ini merupakan sebuah upaya kebaikan dalam menyebar luaskan ilmu di tengah minimnya orang berkapasitas yang mengajarkannya. Continue reading

Advertisements

Dahsyatnya Ramalan Rasulullah SAW Tentang Kiamat


alqiyamah1Bismillahirrahmanirrahim…

Sungguh beberapa waktu belakangan ini telah kita saksikan dan dengarkan bersama khabar-khabar mengenai bila datangnya kiamat berdasarkan ramalan-ramalan manusia yang dengan pengetahuannya yang tidak seberapa itu telah membuat kepanikan dan kekhawatiran segelintir orang yang tidak berilmu dan berakal. Dan mereka pun dengan tergesa-gesanya menyebarkan khabar-khabar ini kepada kerabat, karib, dan koleganya. Maka tak ayal pula dengan berbekal naluri mempertahankan dirinya mereka mempersiapkan segala sesuatu untuk dapat mempertahankan kehidupan pribadinya di dunia ini, untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman kiamat yang telah diramalkan oleh manusia tak berilmu tersebut.

Inilah dampak fenomena ramalan kiamat yang terjadi pada kalangan umat kafir, mereka dengan kekafirannya mempercayai dan meyakini sesuatu dengan akal dan logikanya. Ketika diberitakan suatu khabar yang tidak pasti sekalipun jikalau dibarengi dengan suguhan logika pengetahuan yang mantap maka mereka akan berbalik pandangan 180 derajat, dari semula tidak percaya dan ragu-ragu menjadi sangat yakin dan antusias. Lantas bagaimana dengan kaum muslimin menyikapi fenomena ramalan ini? Continue reading