AFILIASI SEPERTI APA?


Tulisan ini berangkat dari fenomena di masyarakat Islam yang saya kira banyak keganjilan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Saya mencoba membuat tulisan ringan yang didalamnya kita sama-sama mencoba untuk menganalisa dari sudut pandang berpikir masing-masing dan afiliasi yang saya maksud disini adalah afiliasi yang islam inginkan atau bukan.

Berangkat dari sebuah tulisan dari Syaikh Fathi Yakan dalam bukunya Kebangkitan Islam, beliau menyebutkan dengan suatu pernyataan yang keras bahwa salah satu penyebab kemunduran kaum muslimin hari ini adalah masyarakat Islam yang terpecah ke dalam berbagai golongan (afiliasi), merasa dirinyalah yang benar sedangkan yang di luar afiliasinya adalah menyesatkan, kewajiban mereka terhadap kalangan diluar mereka adalah sesuatu yang sunah belaka, sementara menjadi wajib jika berlaku dalam afiliasi mereka.. Bahkan beliau mengatakan anggota-anggotanya sendiri menganggap  bangsa Allah yang terpilih, sementara orang diluarnya dianggap keluar dari agama!

perpecahanMari kita mencoba masuk ke dalam ranah kenyataan dilapangan dalam kaitannya dengan pernyataan diatas. Tidaklah dapat dipungkiri bahwa kita merasakan kenyataan yang sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan bahwa kaum muslimin hari ini membangga-banggakan diri dengan afiliasinya. Apabila orang-orang dengan afiliasi tertentu yang menguasai suatu wilayah masyarakat baik itu wilayah suatu negara secara global atau di mesjid, kampus dan lain sebagainya secara lokal, maka anda jangan berharap suara-suara pembelaan mereka dalam suatu tindakan adalah dari dan kepada orang yang diluar afiliasinya.

Dalam konteks global, kita akan mudah menemukan orang-orang dengan afiliasi yang seperti ini ingin menunjukkan simpatinya yang sangat luar biasa “hanya” pada wilayah yang dirasa disanalah juga teradapat afiliasinya, anda akan mudah menemukan fatwa/ ijtihad dari syaikh-syaikh/ulama belahan dunia yang sejalur dan anda akan sulit menemukan dari yang lain bahkan untuk masalah fiqh secara umum, kita juga akan mudah menemukan dukungan dengan luar biasanya kepada suatu wilayah negara di belahan dunia meskipun kita ketahui wilayah lain juga mendapatkan penderitaan yang sama dan perjuangan yang cukup ekstra dalam menghadapi kaum kafir, akan tetapi kita tidak akan menemukan dukungan yang “luar biasa” yang sama dari mereka, baik itu melalui facebook dalam bentuk foto profil ataupun hastag di twitter atau dalam wujud yang lain. Apakah ini ada yang melarang? Tidak, ini hanya contoh yang ingin disebutkan sebagai afiliasi. Sedangkan dalam konteks lokal apakah itu dalam bentuk pengajian umum, seminar umum yang bersifat ilmiah/riset seperti seminar tentang riset kimia, biologi atau fisika misalnya, atau pengisi talkshow sederhana, hatta yang mengisi tsaqafah ringan mingguan, diutamakan merupakan orang-orang dengan afiliasi. Kita juga melihat tempat untuk mengaji, majalah-majalah ringan yang dibaca, tulisan-tulisan dan situs-situs internet yang di-share merupakan terbitan dari afiliasinya. Kawan-kawan dalam bergaul, rekan dalam berbisnis, sikap dalam senyum dan tegur sapa, bahkan pada masalah yang urgent seperti pernikahan harus/diutamakan dan meminta nasehat dari du’at dengan afiliasinya terlebih dahulu. YANG MENJADI PERTANYAAN KITA ADALAH AFILIASI SEPERTI APA INI???

Tidak ada yang mengingkari bahwa harus ada sebagian dari kaum muslimin yang berkewajiban untuk menyampaikan yang ma’ruf dan melarang dari hal yang munkar, sebagaimana firman Allah;

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali ‘Imran : 104)

Hanya satu penafsiran dalam ayat ini adalah menyeru kepada Islam dan atas nama Islam bukan kepada embel-embel dan atas nama apapun sebagaimana Ibnu Katsir nyatakan dalam tafsirnya. Kita tidak menyalahkan kepada yang ingin masuk dalam suatu wadah/tempat/organisasi/lembaga yang merupakan “bagian dari jamaah” kaum muslimin untuk mempermudah tersampaikannya kebaikan dan tujuan dakwah. Akan tetapi jika kenyataan yang terjadi adalah seperti yang disebutkan diatas maka kita juga tidak bisa menganggap itu sebagai suatu kebenaran. Jadi, bukanlah suatu hal yang mengherankan jika sebuah wadah/tempat/organisasi/lembaga yang mengatas namakan dakwah didalamnya namun pada kenyataannya kaum muslimin yang lain akan menolak serta apatis terhadap apa yang dijalankan. Letak permasalahannya adalah pada “AFILIASI”, walau sebagus apapun cara kita mengemas wadah/tempat/organiasasi/lembaga tersebut bahkan atas nama dakwah sekalipun!

Seseorang yang menyatakan dirinya muslim maka ia dengan sendirinya inheren dengan Islam atau jamaah kaum muslimin. Banyak ayat dalam Al Quran dan hadits yang menyatakan supaya umat islam jangan berpecah belah karena hakekatnya umat Islam adalah dalam satu kesatuan dan yang mengikatnya adalah Al Quran dan Sunnah. Hatta bayi umat Islam yang baru lahir kedunia wajib dianggap sebagai bagian dari jamaah kaum muslimin. Sehingga seseorang yang mengatasnamakan jamaahnya “ Laa Firqah” sekalipun, akan tetapi jika sikapnya adalah sikap berafiliasi tertentu dan cenderung mengekslusifkan diri sebagaimana konsepnya bukan sebagai konsep Islam, maka juga tidak bisa dikatakan sebagai jamaah kaum muslimin secara utuh. Saya ingin membawa kita semua dalam sebuah logika berpikir bahwa jika ayat yang kita tafsirkan diatas tentang kewajiban “sebagian orang” diatas sebagai bentuk afiliasi tertentu sebagaimana yang diyakini meski mungkin tidak mau diakui, bagaimanakah nasib seorang muallaf yang meninggal dunia setelah syahadatnya? Bagaimana nasib orang tua kita serta saudara-saudara kita yang lain diakhirat yang ia bahkan cukup lama mendakwahkan kita sebagaimana kapasitas yang dimilikinya, sedangkan mereka tidak pernah mendengar dan mengetahui tentang konsep berafiliasi dan yang mereka ketahui hanyalah Islam? Apakah mereka tidak termasuk orang yang beruntung menurut kita?

Pada hakekatnya, penyampaian sesuatu yang bersifat nasehat/kebaikan merupakan wujud alamiah dari kepentingan untuk dari sendiri untuk menjadi insan yang lebih baik, dan saya ingin menasehati diri sendiri dengan tulisan ini, dan mencoba untuk saling sharing dengan para pembaca semuanya. Tulisan ini disadur berdasarkan usaha untuk mengamalkan sebuah ayat dalam Al Quran yang berisi ;

“Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar Ruum : 31-32)

Menutup tulisan ini saya ingin menyampaikan sebuah ayat dalam Al Quran yang cukup penting bagi kita semua sebagai seorang muslim, bahwasanya standar dalam suatu perselisihan diantara sesama bukanlah standar kebaikan berdasarkan indera manusia akan tetapi adalah Al Quran dan Sunnah sebagai wujud kebenaran dan keikhlasan sebagai dasar dalam tindakan. Semoga kita memiliki hati yang hanif dan beramal sesuai dengan garis standar dalam Islam dan bukan berdasarkan logika manusia. Allah berfirman :

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian diantara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (QS. Ali ‘Imran : 19)

one-ummahHarapan kita sebagai seorang muslim mengenai realita yang ada, tentunya kita mengharapkan adanya suatu fiqh waqi’iyyah (realita) yang dibahas oleh oleh para ulama terhadap permasalahan ukhuwah islamiyyah yang rumit ini. Sebagaimana banyak kita jumpai fiqh waqi’iyyah yang berkaitan dengan hukum-hukum kontemporer, seperti permasalahan bekerja di Bank, bersalaman dengan lawan jenis, bahkan juga untuk hal-hal yang bersifat interaksi sosial sebagaimana permasalahan diatas seperti mengucapkan selamat natal kepada kaum kristen dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam.

Rizki Marza, penulis adalah aktivis mahasiswa perguruan tinggi negeri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s